TBC merupakan penyakit menular akibat infeksi bakteri Mycobacterium Tuberculosis. TBC secara umum menyerang organ paru-paru, namun penyakit ini bisa menyerang organ tubuh lainnya, misalnya nodul limfa, pleura, serta area osteoartikular. Handayani mendefinisikan TBC sebagai penyakit infeksi dari kuman Mycobacterium Tuberculosis yang memiliki sifat sistematis dan bisa menyerang hampir semua anggota tubuh terutama paru-paru. Paru-paru telah umum menjadi tempat infeksi pertama dari bakteri Mycobacterium Tuberculosis.
Ini menjadi 5 bakteri yang memiliki keterkaitan dengan TBC. Mycobacterium Tuberculosis menjadi bakteri yang sering dijumpai dengan penularan antar manusia melalui udara (Kemenkes, 2019). Mycobacterium Tuberculosis merupakan bagian dari ordo Actinomycetales, familia Mycobacteriaceae, genus Mycobacterium dan spesies Mycobacterium Tuberculosis.
TBC sering kali menular antar manusia melalui udara yang mengandung percik renik/droplet nucleus. Percik renik keluar saat penderita TBC bersin, batuk, atau bicara. Percik renik dapat diperoleh melalui pengecekan yang menciptakan produk aerosol, seperti bronskopi, induksi sputum, serta pengolahan jaringan pada laboratorium. Percik renik memiliki ukuran yang sangat kecil, bersifat sangat infeksius, dan mampu bertahan hingga 4 jam pada udara bebas. Seseorang terpajan TBC apabila percik renik terhirup dan masuk sistem pernapasan. Terdapat beberapa hal yang berpengaruh pada penyebaran TBC, seperti konsentrasi bakteri TBC di udara, volume dan ventilasi ruangan, kontak erat dengan penderita, lama individu berada di udara tercemar, dan sistem imunitas seseorang.
Gejala TBC terbagi dua, yaitu gejala utama serta tambahan. Adapun gejala utama yang diderita oleh penderita TBC, yaitu batuk berdahak selama dua minggu ataupun lebih. Gejala utama bisa disertai beberapa gejala tambahan. Gejala tambahan tersebut, yakni:
Batuk tidak selalu menjadi gejala khas TBC pada pasien dengan HIV positif. Oleh karena itu, gejala batuk yang dialami oleh pasien dengan HIV positif tidak harus selalu 2 minggu atau lebih.
Diagnosis TBC ditetapkan dengan berbagai cara, seperti pemeriksaan klinis, pemeriksaan laboratorium, serta pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan klinis dilakukan dengan melihat gejala serta tanda TBC yang ada pada penderita. Pemeriksaan laboratorium dilakukan dengan 2 metode, yakni pemeriksaan bakteriologi dan pemeriksaan biakan. Pemeriksaan bakteriologi terdiri dari pemeriksaan dahak mikroskopis langsung dan pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) TBC. Pemeriksaan dahak mikroskopis langsung dilakukan dengan mengumpulkan 2 contoh uji dahak berupa dahak sewaktu (S) dan pagi (P).
Dahak sewaktu dikumpulkan di fasyankes dan dahak pagi dikumpulkan pagi setelah bangun tidur. Pengumpulan dahak pagi bisa dilaksanakan di rumah pasien atau bangsal rawat inap. Pemeriksaan Tes Cepat Molekuler menggunakan metode Xpert MTB/Rif. TCM. Pemeriksaan ini digunakan untuk mendeteksi adanya resistensi obat anti TBC. Pemeriksaan berikutnya, yaitu pemeriksaan penunjang lainnya. Pemeriksaan penunjang lainnya dapat dilakukan dengan pemeriksaan foto toraks dan pemeriksaan histopatologi pada kasus yang dicurigai TBC ekstra paru.
Terdapat berbagai upaya untuk pencegahan TBC. Pencegahan dilaksanakan dengan memberi sosialisasi terkait apa itu TBC, tanda dan gejala, cara penularan, serta lain-lain. Purnama mengklasifikasikan upaya pencegahan TBC menjadi 3 klasifikasi, yaitu upaya primer, sekunder, serta tersier.
Upaya pencegahan primer dilakukan untuk menjaga daya tahan tubuh seseorang agar tetap baik, seperti memperbaiki standar hidup, mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, istirahat cukup, rutin olahraga di tempat yang memiliki udara bersih, dan meningkatkan imun tubuh dengan vaksinasi BCG. Sementara upaya pencegahan sekunder dilakukan untuk mencegah infeksi TBC.
Upaya sekunder dapat dilakukan dengan uji tuberkulin, mengatur ventilasi dengan baik, menurunkan kepadatan hunian rumah, melaksanakan foto rontgen bagi seseorang yang memiliki hasil tes tuberkulin positif, dan melaksanakan pengecekan dahak untuk seseorang yang memiliki gejala klinis TBC paru.
Upaya pencegahan tersier juga perlu dilakukan apabila tubuh sudah terinfeksi oleh bakteri TBC. Pencegahan tersier berfungsi untuk menyembuhkan pasien, mencegah kecatatan, kekambuhan serta kematian, memutus rantai penularan, dan mencegah resistensi kuman pada Directly Observed Treatment Short-course (DOTS). Pencegahan tersier dapat dilaksanakan melalui pengobatan pasien TBC dengan OAT.
Minsarnawati, Maziyyz Arifah Alfi. (2023). Pola Penyakit tuberculosis (TBC) di provinsi Jawa timur, Analisis Special dan Determinannya. PT Nasya Expanding Management (penerbit NEM – anggota IKAPI) : Pekalongan, Jawa Tengah.